Sunday, April 14, 2013

Catatan: Seria A harus belajar dari bundesliga



Pakar sepakbola Italia Cesare Polenghi menjelaskan bagaimana klub-klub Italia sebaiknya mengesampingkan permusuhan dan bersatu demi merevitalisasi sepakbola mereka.


Juventus dan Lazio masing-masing telah tereliminasi di perempat-final Liga Champions dan Liga Europa. Artinya dari tujuh tim Italia yang berkiprah di Eropa musim ini, tak satu pun yang berhasil mencapai semi-final.

Di antara mereka yang lebih baik ketimbang utusan Italia, selain Jerman dan Spanyol, adalah Inggris, Portugal, Turki, dan Swiss. Portugal kini bahkan tengah merapatkan jarak di ranking UEFA. Sekalipun tersalip Portugal, jumlah klub Italia yang tampil di Liga Champions memang tak akan berubah, tapi keadaan saat ini seharusnya membuat mereka yang mengatur dan memiliki franchise sepakbola Italia terbangun dan menaruh perhatian.

Setelah Juventus dikalahkan oleh Bayern untuk kedua kalinya dalam selang delapan hari, pelatih Antonio Conte dan direktur umum Beppe Marotta hanya membicarakan sedikit tentang sepakbola dalam konferensi pers. Mereka cenderung berfokus pada isu finansial, menunjukkan betapa Bayern adalah klub yang lebih kaya dan pastinya di tahapan yang lebih tinggi dalam pembangunan finansial.

Fakta bahwa Juventus setidaknya menyadari pentingnya ekonomi dalam sepakbola modern tentunya merupakan pertanda bagus, dan semoga menjadi pesan yang akan sampai kepada klub Italia lainnya: telah tiba waktunya untuk merenungkan soal ini.

Ketika di masa lampau para suporter tim Italia menikmati saling ejek dan merayakan tereliminasinya rival mereka di tangan klub asing, kali ini tidak demikian keadaannya setelah Juve tersingkir tanpa memberikan perlawanan berarti pada Bayern Munich.


Bayern Munich | Kaya dan dalam pembangunan finansial yang baik

Melihat tim yang telah menguasai sepakbola Italia dalam dua musim terakhir  terdominasi oleh lawan di kandang sendiri merupakan pesan buruk untuk seluruh suporter di Italia.

Mengesampingkan isu historis, orang-orang Italia dan Jerman punya sejarah panjang cinta dan benci, dan meski warga Jerman akan tetap mengapresiasi seni serta masakan Italia, sekaranglah waktunya bagi masyarakat Italia untuk iri pada pencapaian Jerman -- dalam sepakbola.

Kendati terbilang kurang dari segi pemain bintang, stadion-stadion Bundesliga selalu terisi penuh, tiket dijual dengan harga terjangkau dan menonton pertandingan dapat menjadi aktivitas keluarga yang menyenangkan.

Di Italia, dengan beberapa pengecualian, kita masih melihat stadion yang sepi, dari pekan ke pekan. Ini tidaklah mengejutkan mempertimbangkan harga tiket masuk yang terinflasi dan fakta bahwa sepakbola Italia masih dikotori oleh holiganisme dan rasisme.

Pertanyaannya adalah: apa yang tengah dilakukan klub-klub dan federasi untuk memperbaiki situasi ini? Jawabannya: sebagian besar tak ada. Pekan terakhir Serie A (giornata 31), contohnya, diakhiri dengan manajemen Inter dan Milan mengemukakan dugaan konspirasi hanya karena segelintir keputusan meragukan dari wasit.

Tudingan kenakak-kanakan pada wasit, federasi, dan tim pesaing, ketimbang membentuk barisan yang bersatu, dalam opini penulis merupakan problem sesungguhnya di jantung sepakbola Italia. Seperti kasus yang sering terjadi dalam politik, dibutuhkan segelintir orang baik untuk memperbaiki situasi, tapi mempertimbangkan keadaan sekarang, sulit rasanya melihat cahaya di ujung terowongan ini.

"Federasi dan klub-klub yang harus duduk bersama, menepikan ketertarikan personal dan bekerja sama untuk membangun kembali sepakbola Italia"

Kembali ke perbandingan tadi, di Jerman juga mungkin ada pertempuran di antara klub-klub, tapi itu biasanya isu-isu minor yang ditangani dengan cepat. Ketertarikan umumnya adalah untuk mendorong produk Bundesliga, dan hasilnya kini bisa dilihat semua orang: dua tim di semi-final Liga Champions dan liga yang sehat dan bergelora.

Liga Primer Inggris telah menunjukkan bagaimana cara mengatur merek sepakbola mereka dengan sukses selama lebih dari satu dekade. Tapi di bagian selatan pegunungan Alpen (Italia), hanya sedikit yang melihat perencanaan tersebut.

Di Italia, perubahan tak akan datang dari suporter ataupun media. Adalah federasi dan klub-klub yang harus duduk bersama, menepikan ketertarikan personal dan bekerja sama untuk membangun kembali sepakbola Italia.

Juventus, meski sukses di level domestik, harus ambil bagian dalam diskusi ini. Dominasi mereka di Italia jelas tak cukup bagi sebuah klub yang punya ambisi Eropa jelas, dan tim Serie A yang lemah membuat mereka terperanjat ketika berhadapan dengan superpowerEropa seperti Bayern Munich.

Alternatif lainnya adalah melanjutkan 'perang sipil' yang kekanak-kanakan ini, dan menghabiskan midweek untuk menyaksikan tim-tim dari Jerman, dan sekarang juga dari Turki dan Swiss, memainkan laga semi-final ajang Eropa di stadion terisi penuh.

0 comments:

Post a Comment